BANDA ACEH, mediakampus – Sebanyak 69 pimpinan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) bersama badan penyelenggaranya di wilayah Aceh berkumpul dalam Rapat Kerja yang digelar LLDikti Wilayah XIII di Hotel The Pade, Aceh Besar, Kamis (23/7/2026).
Dua pejabat dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) hadir sebagai pembicara dalam forum tersebut. Keduanya adalah Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Dr. Fauzan Adziman, S.T., M.Eng., dan Direktur Kelembagaan Ditjen Pendidikan Tinggi Prof. Dr. Mukhamad Najib, S.TP., M.M.
Dalam forum itu, Kepala LLDikti WIlayah XIII Dr. Ir. Rizal Munadi, M.M., M.T., membeberkan capaian sekaligus persoalan yang masih membelit dunia pendidikan tinggi di Aceh. Dari total 3.525 dosen yang berada di bawah pembinaan lembaganya, jumlah yang sudah menyandang jabatan guru besar baru mencapai sembilan orang.
Kondisi serupa juga terjadi pada sisi akreditasi. Belum satu pun kampus di wilayah tersebut yang berhasil menembus predikat Akreditasi Unggul, kendati 18 program studi telah lebih dulu mengantonginya.
Menurut Rizal, data ini menjadi tantangan sekaligus motivasi bagi kita semua untuk terus meningkatkan kualitas sumber daya manusia, tata kelola perguruan tinggi, dan mutu akademik agar semakin kompetitif di tingkat nasional.
Ia menilai persoalan tersebut tidak bisa diselesaikan sendiri-sendiri, melainkan membutuhkan kerja sama erat antara LLDikti WIlayah XIII, badan penyelenggara, dan jajaran pimpinan PTS.
Giliran Fauzan Adziman tampil di sesi awal, ia menguraikan arah kebijakan pemerintah pusat dalam memperkuat sektor riset dan pengembangan sebagai landasan transformasi pendidikan tinggi. Menurutnya, ekosistem riset yang solid menjadi kunci lahirnya inovasi yang benar-benar berdampak pada pembangunan bangsa dan bermanfaat untuk masyarakat.
Ia mengajak kampus-kampus untuk tidak berjalan sendiri, melainkan merangkul pemerintah, pelaku usaha dan industri, hingga masyarakat luas. Tujuannya, agar riset yang dihasilkan tak sekadar berujung pada jurnal ilmiah, tapi benar-benar menjawab persoalan di lapangan.
Sesi berikutnya diisi Mukhamad Najib yang mengangkat tema “Transformasi Pendidikan Tinggi Indonesia”. Ia menggarisbawahi tiga kunci: tata kelola yang mumpuni, penguatan riset dan inovasi, serta kolaborasi antarsektor sebagai jalan meningkatkan mutu dan daya saing kampus.
Baginya, transformasi yang dimaksud harus melahirkan institusi pendidikan yang lincah beradaptasi, tetap relevan dengan kebutuhan zaman, dan memberi manfaat konkret bagi masyarakat — sejalan dengan cita-cita besar Indonesia Emas 2045.
Lewat rapat kerja ini, LLDikti Wilayah XIII mendorong seluruh PTS di Aceh agar lebih aktif menggarap program-program penguatan kelembagaan yang telah disiapkan pemerintah. Sejumlah agenda menjadi prioritas, mulai dari mendongkrak kualitas dosen, mencetak lebih banyak guru besar, mempercepat langkah menuju akreditasi unggul, hingga menumbuhkan budaya riset dan inovasi di kampus.
Forum ini diharapkan mempererat sinergi antara LLDikti WIlayah XIII, badan penyelenggara, dan PTS se-Aceh, demi mewujudkan pendidikan tinggi yang unggul, adaptif, dan berdampak — baik untuk level daerah maupun nasional.
(Redaktur Media Kampus)

